Jumat, 14 Oktober 2016

hal sederhana

Apa hal yang kamu cita-citakan setelah menikah?? Punya rumah? Punya mobil? Segera punya anak? Apapun itu, selama baik untukmu. Usahakanlah!!
Saya?

Sebenarnya cita-cita saya sederhana, menjadi istri yang baik, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak, bisa mencari uang sendiri, ya paling tidak untuk kehidupan pribadi saya sendiri. Siapa sih yang gag pengen jadi istri mandiri, yang apa-apa beli sendiri, ngga harus minta suami. Urusan kepengenan saya pribadi, biarlah saya yang penuhin sendiri. Malah harapan saya, penghasilan saya juga bisa untuk membantu suami, menurut saya pernikahan itu semuanya harus ditanggung bersama. Bukan hanya urusan suami saja. Itu pengen saya ya, ya.. Semoga ada jalan untuk niat baik.
Udah, gitu aja?
Nggak.
Saya pengen bisa nyiapin sarapan untuk anak-anak dan suami saya setiap pagi sebelum saya berangkat ke kantor. Bisa pulang cepat untuk menyiapkan makan malam untuk mereka, atau sekadar cemilan buat nemenin (calon) suami saya begadang nonton Liverpool. Bisa ngajarin anak saya bahasa Indonesia yang baik, bisa melindungi dan menjaga anak-anak saya dari konten2 berbahaya di dunia maya. Atau bisa masakin oseng kangkung atau sayur asem kesukaan (calon) suami saya.
Kalau belum punya anak?
Saya pengen jadi istri yang bisa mendengarkan suaminya, ya muluknya, pengen bisa bantu suami untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi kadang, kita punya keterbatasan, kan. Jadi, kalo nggak bisa bantuin, paling tidak saya bisa bikin dia lebih tenang dan merasa semuanya akan baik-baik saja (walau kenyataannya tidak). Saya pengen jadi istri yang setiap suami saya bangun tidur, saya udah ada di depannya membawa secangkir teh manis kesukaannya serta sebuah kecupan yang tak kalah hangat. Saya pengen jadi istri yang ketika suami saya pulang ke rumah, saya udah cantik dan wangi, sudah menyiapkan makan malam, sudah siap memeluknya dan mendengarkan bagaimana harinya berjalan. Saya pengen jadi istri yang tiap dia masuk angin atau kakinya pegel-pegel, saya tinggal pijetin dan bikinin teh hangat, jadi dia nggak perlu lari ke tempat pijit. Saya pengen jadi istri yang nggak lupa pernah sama kewajibannya, dan punya suami yang nggak pernah lupa untuk memberikan hak-hak istrinya. Apa saja itu? Dikompromikan dahulu.
Banyak juga ya kepengenannya.
Lho, bukan cuma itu. Saya juga pengen jadi istri yang bisa bilang “saya punya” ketika dia sedang kekurangan, atau “saya bisa” ketika dia tidak mampu, atau “saya kuat” ketika dia merasa lemah. Bukan karena dia tidak sempurna dan saya harus menyempurnakannya, tapi karena saya ada untuk membuat hidupnya lebih mudah, bukan menyusahkannya. Karena saya pun nggak sempurna, saya pun nggak lengkap, saya cuma butuh seseorang yang bisa membuat hidup saya lebih ringan ketika beban sedang berat-beratnya. Pun dia.
Masih ada lagi?
Ada, dong. Saya pengen jadi istri yang bisa dia ceritakan ke orang lain dengan mata berbinar-binar dan bibir tersenyum. Istri yang juga disayangi oleh keluarganya. Istri yang dengan bangga dia gandeng ke setiap undangan. Muluk, ya?
Saya pengen begini, saya pengen begitu… Saya nggak perlu mempertanyakan apakah dia akan melakukan hal yang sama, karena dengan memutuskan untuk mengatakan “iya” saat dia (nanti) melamar saya, saya yakin kalau dia akan menjadi sebaik-baiknya suami, sepantas-pantasnya lelaki. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar